Suasana tenang dan damai tampak menyelimuti sebuah taman
yang cukup luas, hembusan angin sore membuat daun-daun tua berguguran di rerumputan
luas yang ditengahnya terdapat sungai kecil yang airnya mengalir dengan tenang.
Langit sore yang tadinya cerah perlahan-lahan menampakkan cahaya abu-abu gelap
seluruhnya pertanda akan turun hujan. Aku masih terhanyut dengan kegiatanku
sehingga tidak sadar bila titik-titik air hujan mulai turun membasahi bumi.
“Dara!” Aku
menolehkan pandanganku pada sumber suara yang sangat familiar di telingaku.
Ternyata kak Indah, sahabatku yang selalu menemani hari-hariku di rumah sejak
aku masih kecil. Kak Indah, aku memanggilnya dengan sebutan kakak karena memang
ia lebih tua satu tahun dariku, walaupun hanya berbeda satu tahun aku tetap
memanggilnya dengan sebutan kakak. Kulihat ia berjalan menghampiriku dengan
payung yang dibawanya.
“Ra, ngapain masih disini? Pulang
yuk, pasti sebentar lagi hujannya deras” kata kak Indah lalu memayungi kepalaku
agar tidak tdak terkena tetesan air hujan dengan payung yang dibawanya.
“Ah iya kak, aku keasyikan ngerjain
PR sampai-sampai ngga sadar kalau ternyata sudah hujan” kataku lalu membereskan
barang-barangku.
Kami berdua lalu berjalan menyusuri
rerumputan hijau yang sudah basah terkena tetesan air hujan untuk pulang ke
rumah kami masing-masing.
“Kak?” panggilku pada kak Indah
saat kami masih menyusuri jalan pulang.
“Hmm..” Ia hanya berdehem sambil
terus melihat lurus ke depan.
“Kak, tadi kakak ngapain ke taman?”
tanyaku sambil melirik ke arahnya.
“Jemput kamu” jawabnya singkat.
“Serius kak? Tumben, biasanya aku
yang sering nyariin kakak” kataku tak percaya. Memang bisa dibilang selama ini
yang sering membutuhkan ia adalah aku, biasanya aku selalu mencarinya untuk
sekedar meminta bantuan mengerjakan PR-ku yang tidak aku mengerti.
“Iya, habisnya tadi kakak samper ke
rumah kamu, eh kata ibumu kamu alagi ke taman, ya sudah akhirnya aku susul kamu
kesini” kata kak Indah menjelaskan alasannya menjemputku di taman.
“Memangnya kakak ada perlu apa
nyariin aku?” tanyaku pada kak Indah.
“Aku mau cerita sama kamu, Ra”
jawab kak Indah. Cerita? Kira-kira dia mau cerita apa ya? Pantas saja ia
menyusulku ke taman, ternyata ia ada perlunya.
“Cerita apa kak?” tanyaku
penasaran.
“Nanti saja ya ceritanya kalau
sudah sampai rumahku, kamu ikut ke rumahku dulu ya” katanya mengajakku ke
rumahnya.
“Huh, iya deh kak” kataku pasrah.
Tak terasa karena obrolan panjang
kami, kami pun telah sampai di rumah kak Indah. Rumahku dan rumah kak Indah
memang tidak terlalu berjarak jauh, kami masih tinggal satu lingkungan. Bedanya
aku di lingkungan atas sedangkan ia di lingkungan bawah.
“Kak, tadi mau cerita apa?” tanyaku
pada kak Indah, saat ia sudah selesai meletakkan payung yang sudah basah di
teras rumah.
“Aku.. Aku suka sama cowok, Ar”
jawabnya. Oh ternyata ia naksir cowok toh. Aku sih tidak terkejut. Aku sudah
biasa mendengar curhatannya kalau ia sedang suka sama cowok.
“Siapa kak?” tanyaku penasaran.
“Dia namanya Ilham. Anak lingkungan
bawah temennya Dio. Kayanya sih dia seumuran sama aku” kata kak Indah.
“Ilham? Dia baru pindah kesini ya
kak? Kok aku baru denger namanya” kataku sambil berfikir.
“Iya, waktu itu sih aku lihat dia
lagi beres-beres barang-barangnya di rumah barunya. Oh iya, rumahnya Ilham di
sebelah rumah Dio loh” katanya sambil senyum-senyum. Aku jadi penasaran seperti
apa sih sosok Ilham itu? Sampai-sampai kak Indah cerita sambil senyum-senyum
tidak jelas begitu.
“Memang dia setampan apa sih, kok
kakak sampai senyum-senyum nggak jelas begitu?” tanyaku mengutarakan
perasaanku.
“Hehehe dia itu tampan, putih,
tinggi, dan senyumannya itu.. Manis banget! Pokoknya perfect deh!” jawabnya
seraya menceritakan bagaimana sosok Ilham.
“Ah aku jadi penasaran nih,
pokoknya besok aku harus ke rumahnya Dio
biar bisa ketemu sama Ilham” kataku bersemangat.
“Ya sudah sana gih, nanti juga kamu
bakal terpesona sama ketampanan seorang Ilham. Eh tapi kamu jangan naksir ya
sama dia, soalnya dia itu calon pacar aku hehehe” kata kak Indah seraya
membanggakan dirinya. Huh! Tidak heran kalau sifatnya kak Indah memang seperti
ini. Sangat narsis!
“Oke kalau begitu aku mau pulang
dulu ya kak, takutnya ibu nyariin” pamitku karena hari sudah mulai gelap.
“Hati-hati ya, Ra” kata kak Indah
menasehatiku.
“Assalammualaikum”
“Waalaikum salam”
Aku berjalan pulang menuju rumahku.
Untungnya hujan sudah reda, jadi aku tidak perlu berlari menembus hujan atau
menggunakan payung untuk sampai ke rumahku.
Keesokan
harinya, sehabis pulang sekolah aku menepati janjiku untuk datang ke rumah Dio.
Dio juga salah satu temanku, dia juga begitu akrab denganku sama seperti kak
Indah. Tapi bedanya, Dio laki-laki kalau kak Indah perempuan. Dio juga seumuran
denganku. Kulihat Dio sedang tiduran di kursi teras rumahnya sambil
mendengarkan musik yang di putar melalui headset yang ada di telinganya dengan
mata terpejam.
“Assalammualaikum Dio” sapaku
seraya memberi salam.
Dio hanya diam tak merespon,
sepertinya ia terlalu larut dalam kegiatannya mendengarkan musik sehingga tidak
mendengar suaraku.
Akhirnya aku pun membuka pagar besi
rumah Dio yang bercat hitam dan langsung
menghampirinya.
“Dio!” panggilku, tapi dia tetap
diam seperti tadi.
“Dioooooooooooooo!” teriakku tepat
di telinganya, tanganku bergerak untuk melepas satu headset di telinganya.
“Astaghfirullah” kagetnya dan
langsung mengubah posisinya menjadi terduduk. Sepertinya ia kaget dengan
tindakanku barusan.
“Dara? Ada perlu apa kamu kesini?”
tanyanya setelah ia mengontrol keadaan tubuhnya yang sedang kaget itu.
“Hehehe aku kesini mau lihat
tetangga baru kamu” jawabku sambil sesekali melirik ke arah samping rumah Dio
yang hanya dibatasi pagar besi yang tidak terlalu tinggi.
“Oh si Ilham, kenapa memangnya kamu
suka ya sama dia?” tanya Dio dengan ekspresi jutek.
“Engga kok, kenapa kamu jadi jutek
begitu sih. Aku kan Cuma penasaran aja sama yang namanya Ilham itu” jawabku
mengalihkan pandanganku dari rumah Ilham lalu menatap Dio malas.
“Masa sih kamu cuma penasaran aja
sama dia, nanti kalo udah lihat orangnya jadi suka lagi” katanya datar tanpa
ekspresi. Dio ini sedang menggodaku atau bagaimana sih? Kenapa dia
mengucapkannya dengan ekspresi seperti itu.
“Ah ngga mungkin, lagipula kamu kok
bisa bilang begitu? Memangnya dia tampan ya?” tanyaku pada Dio.
“Menurutku tidak juga sih, kalau
dibandingkan denganku juga masih lebih tampan aku” kata Dio dengan percaya
dirinya. Aku memutar bola mataku malas menanggapi ucapannya yang terlalu
percaya diri itu.
Belum sempat aku membalas ucapan
Dio, kulihat seorang laki-laki muda seumuran kami keluar dari rumah di samping
rumah Dio. Sepertinya itu yang bernama Ilham. Ternyata kak Indah tidak
berbohong, Ilham memang benar-benar tampan. Tubuhnya yang tinggi, kulitnya yang
tidak terlalu putih, dan hidungnya yang mancung. Ia benar-benar mirip seperti
idolaku, Lee Donghae dari boygroup Super Junior. Aku masih terpesona
menatapnya, sampai-sampai aku merasakan ada yang menyenggol lenganku. Aku
menoleh untuk melihat siapa yang menyenggol lenganku. Ternyata Dio. Aku menoleh
ke arah Dio dengan tatapan bertanya. Sedangkan Dio mengarahkan dagunya pada
seseorang dihadapanku. Ilham!??? Sedang apa dia disini? Apa jangan-jangan ia
kesini untuk menemui Dio? Ah bagaimana mungkin aku bisa melamun selama itu.
Pasti wajahku tadi sangat memalukan!
“Hai Dara!” sapa Ilham sambil
menatapku. Apa? Ilham tau namaku?
“Kok kamu bisa tau namaku?” tanyaku
ke Ilham.
“Ah.. Itu-” kata Ilham terpotong.
“Aku yang memberitahunya” sela Dio
memotong perkataan Ilham.
“Ehm, Hai” balasku kaku. Sepertinya
aku mulai menyukai Ilham.
“Perkenalkan namaku Ilham, aku baru
pindah hari minggu kemarin” kata Ilham sambil mengulurkan tangannya ke arahku.
“Aah iya, aku.. Emm kamu kan sudah
tau namaku hehehe” jawabku sambil membalas uluran tangannya. Beberapa detik
kami terdiam.
“Ekhem, sudah dong salamannya,
masih ada aku loh disini” kata Dio datar, sambil melepas tautan tanganku dan
Ilham.
Dan setelah itu pun terjadi obrolan
panjang antara aku, Dio, dan Ilham. Sesekali Dio dan Ilham bergurau sehingga
membuat kami bertiga menjadi tertawa terbahak-bahak.
Setelah hari
menjelang sore, aku lalu berpamitan pulang pada Dio dan juga Ilham. Sesampainya
dirumahku, aku mendapati kak Indah sedang duduk di kursi yang ada di teras
rumahku. Sepertinya ia sedang menungguku.
“Kak Indah, udah lama?” tanyaku
lalu duduk disampingnya.
“Iya, kamu kemana aja sih?” tanya
balik kak Indah.
“Aku habis dari rumah Dio kak,
habis bertemu sama Ilham” jawabku.
“Ooh kamu udah ketemu dia, gimana
menurut kamu, dia tampan kan?” tanya kak
Indah memastikan pernyataannya kemarin.
“Hmm lumayan kak” jawabku singkat.
Entah mengapa aku sulit mengakui di depan kak Indah kalau Ilham itu memang
tampan. Walaupun begitu aku tidak boleh menyukai Ilham. Aku harus menjaga
perasaan kak Indah yang terlebih dahulu telah menyukai Ilham.
Kami pun terlarut dengan obrolan
kami. Aku sadar, aku tidak boleh menyukai Ilham karena kak Indah. Kak Indah
sudah ku anggap sebagai kakakku sendiri karena memang aku tidak mempunyai
kakak, aku hanya mempunyai satu adik.
Beberapa
minggu setelah hari itu, aku sering datang ke rumah Dio untuk belajar bersama
dengan Dio dan saat itu juga aku mendapati kak Indah tengah ada di rumah Ilham.
Sepertinya kak Indah sedang menjalankan misinya untuk mendekati Ilham. Kak
Indah benar-benar serius dengan
perkataannya waktu itu untuk menjadikan Ilham pacarnya. Setelah selesai
mengerjakan tugasku di rumah Dio, aku bergegas pulang ke rumahku.
“Dara!” Ku dengar ada yang
memanggilku. Aku menolehkan kepalaku ke arah sumber suara. Ternyata itu suara Ilham. Ia pun berlari
kecil menghampiriku.
“Iya, ada apa Ham?” tanyaku pada
Ilham setelah ia tepat berada dihadapanku.
“Ikut aku ke taman yuk!” ucapnya
lalu berjalan mendahuluiku. Aku mengikutinya dari belakang, tidak berniat
berjalan disampinya.
Sesampainya di
taman, aku dan Ilham memilih untuk duduk di kursi taman yang terletak di bawah
pohon.
“Ehm, Ra” Ia memanggilku.
“Iya Ham?” Aku menatapnya.
“Sebenarnya selama ini aku
memperhatikanmu. Dan yang waktu itu aku sudah tau namamu, aku memang bertanya
pada Dio tentangmu. Waktu pertama aku baru pindah kesini aku sempat melihatmu”
Aku tercekat. Jadi selama ini Ilham memperhatikanku.
“Saat kamu sering mengunjungi rumah
Dio, aku jadi lebih tau bagaimana sifatmu yang sesungguhnya. Dari situ aku tau,
dan aku menyukai sikapmu yang apa adanya. Aku menyukai caramu tertawa, membuka
mulutmu lebar-lebar tanpa memperdulikan sekitarmu. Aku menyukai tingkahmu yang
terkadang polos seperti anak kecil” Aku terdiam. Ini maksudnya apa? Aku
membiarkan dia dia melanjutkan perkataannya.
“Aku suka sama kamu, Ra” Aku masih
terdiam tak merespon ucapannya. Aku menunduk dalam sambil memeluk buku-buku
yang ku bawa ditanganku.
“Ehm Ra.. Kamu mau nggak-”
perkataan Ilham terpotong.
“Jadi kamu suka sama aku?” Pertanyaan
yang aku sendiri sudah tau jawabannya. Akhirnya aku bisa berbicara setelah
beberapa detik tercekat.
“Iya” jawabnya singkat.
“Tapi bukannya kamu tahu kalau-” Perkataanku
terpotong.
“Kalau Indah suka sama aku?” tanya
Ilham sambil menatapku. Aku hanya menangguk pelan.
“Aku tahu itu, bahkan sudah sangat
jelas dari sikapnya terhadapku” Ia sudah tau kalau kak Indah menyukainya? Tapi
mengapa ia malah mengatakan perasaannya padaku?
“Aku ngga suka sama Indah, aku suka
sama kamu. Kamu sama Indah itu beda, Ra!”
katanya seolah bisa membaca pikiranku.
”Tapi... Gimana sama kak Indah?
Kalau dia tau dia akan-” perkataanku terpotong.
”Aku udah tau, Ra. Kamu nggak usah
takut sama aku. Aku rela kalo kamu sama Ilham” Suara yang sangat familiar
ditelingaku. Itu Kak indah! Kulihat dia berlari meninggalkan kami.
“Maaf Ham, aku nggak mau balas
perasaan kamu. Tapi aku nggak mau kak Indah salah paham sama kita berdua” Aku
berhenti sejenak untuk melihat wajahnya.
“Sekali lagi aku minta maaf, tapi
aku pilih kak Indah” ucapku lalu berlari meninggalkan Ilham yang masih terduduk
di kursi taman, memandang kepergianku dalam diam.
Setelah kejadian
itu hubunganku dan Kak Indah semakin merenggang. Ia jarang sekali mengunjungi rumahku,
biasanya dalam selama ini kami selalu
meluangkan waktu untuk bertemu. Aku juga sebaliknya, aku takut Kak Indah
marah padaku. Aku tidak punya keberanian untuk menemuinya. Tapi hari ini,
sehabis pulang sekolah aku memutuskan datang ke rumah Kak Indah. Sesampainya di
rumah Kak Indah, kebetulan aku melihatnya sedang duduk di kursi teras rumahnya.
“Kak Indah!” kataku sambil membuka
pintu pagar rumahnya lalu menghampirinya.
“Eh Dara, kenapa?” katanya sambil
tersenyum sumringah. Ia terlihat senang sekali bertemu denganku. Apa ia telah melupakan
kejadian waktu itu?
“Hmm kak, kakak masih marah sama
aku?” tanyaku pelan tanpa menatapnya.
“Marah? Aku ngga marah kok sama kamu” jawabnya. Ternyata dia tidak marah. Ku
fikir selama ini ia marah padaku. Ternyata dugaanku salah. Tapi kenapa
akhir-akhir ini ia jarang menemuiku?
“Tapi akhir-akhir ini, kenapa kakak
jarang main ke rumah?” tanya ku lagi.
“Aku sibuk Ra, akhir-akhir ini
tugas dari sekolah makin banyak.
Jadi gak ada waktu buat main sama
kamu” kata kak Indah. Oh ternyata karena ia sibuk. Aku kira ia marah denganku
karena kejadian waktu itu.
“Tentang, Ilham kak..” kataku
pelan.
“Aku udah nggak suka sama dia” katanya
tegas. Apa benar ia sudah melupakan rasa sukanya pada Ilham?
“Oh iya Dara, beberapa minggu lagi
kan Ujian Nasional, setelah Ujian Nasional aku harus melanjutkan sekolah
menengah ke asrama. Jadi aku harus ke Jawa Timur. Disana satu-satunya asrama
yang dekat dengan rumah nenekku. Jadi aku bisa pulang ke rumah neneku” Apa
katanya? Ia ingin sekolah di asrama? Itu artinya ia akan meninggalkanku.
“Oh.. Jadi kakak mau ninggalin
aku?” tanyaku lirih. Rasanya aku ingin menangis saat ini juga.
“Tidak seperti itu Dara. Aku masih
bisa pulang kesini. Ayah dan Ibuku masih tetap disini. Jadi sebulan sekali aku akan
mengunjungi mereka dan juga kamu” katanya sambil menatapku.
“Nanti aku disini sama siapa?”
kataku dengan suara serak. Sepertinya aku sudah menangis saat ini.
“Teman kamu banyak, Ra. Ada Dio,
Ilham yang bisa nemenin kamu selama aku tidak ada” katanya.
Aku langsung memeluknya erat, kak
Indah membalas pelukanku tak kalah eratnya. Ku rasakan pundakku basah, kak
Indah menangis. Aku tidak tahu bagaimana bila kak Indah meninggalkanku. Selama
ini ia adalah tempatku berkeluh kesah, bisa dibilang ia tempat curhatku. Ia
juga sering berkeluh kesah kepadaku. Ia yang sudah aku anggap sebagai kakakku
sendiri akan pergi meninggalkanku. Bagaimana aku sanggup?
Tak
terasa hari Ujian Naional pun tiba. Kak Indah dan Reza sedang berjuang untuk
menentukan nilai mereka nantinya di sekolah menengah. Sedangkan aku dan Dio
hanya menjalani Ujian Kenaikan Kelas.
Setelah hari Ujian Nasional
selesai, Ilham memutuskan untuk melanjutkan sekolahnya di Bandung karena ia
mengikuti ayahnya yang pindah tugas ke Bandung. Saat ini Ilham sudah ku anggap
sebagai sahabatku juga. Aku berfikir, kenapa secara perlahan teman-temanku
meninggalkanku? Setelah kak Indah, sekarang Ilham. Aku tidak tau apakah aku
benar-benar menyukai Ilham atau hanya sekedar mengaguminya saja. Disaat ia akan
pergi kenapa aku merasa tidak rela? Tapi semuanya sudah terlambat, pada
akhirnya ia akan meninggalkanku juga.
1 Tahun
Kemudian.....
Suasana
pagi yang cerah diiringi dengan suara kicauan burung yang merdu mewarnai pagiku
hari ini. Aku berjalan dengan riang menuju sekolah baruku, SMPN 179 Jakarta.
Sekolah menengah yang diimpikan oleh teman-teman sebayaku. Dan aku termasuk
salah satu siswi dari sekian banya siswa beruntung yang diterima di sekolah
itu. Dahulu aku menggunakan seragam putih merah, tapi tidak dengan sekarang.
Putih biru adalah seragamku saat ini. Aku akan memulai hari baru ku di sekolah
menengah.
TAMAT