Senin, 20 Januari 2014

Resensi Novel : LOVE DISORDER



 

Judul buku      : Love Disorder
Pengarang       : Clara Canceriana
Penerbit           : Bentang Belia
Cetakan           : Pertama, Maret 2013
Tebal Buku      : 240 Halaman

Novel ini ditulis oleh Clara Canceriana, seorang lulusan Sastra Jepang yang selalu mendengarkan musik kemanapun ia pergi dan senang menonton drama. Kesenangannya sebagai k-popers pernah dia tuangkan kedalam karya (duet bareng fai) berjudul Love Storm yang menjadi naskah terpilih untuk diterbitkan melalui lomba bentang belia (2012).

Novel ini menceritakan tentang kehidupan Troy, seorang cowok pendiam, maniak banget sama coklat, cuek dan super duper rajin dalam  menjalani kehidupannya sebagai mahasiswa tahun pertama di Fakultas Kedokteran. Troy bertemu lagi dengan Patricia, mantan teman SMPnya yang sejak mereka masih ABG cinta mati pada Troy. Troy tidak mencintai Patricia, tetapi terlalu seringnya Troy dan Tiara dibantu patricia membuat perasaan Troy berubah. Dia mulai merasakan adanya getaran aneh terhadap Patricia.

Didalam novel ini banyak sekali istilah-istilah kedokteran dan penjelasannya, novelnya yang satu ini bikin saya terkesan dengan kemampuannya menguraikan istilah-istilah kedokteran, termasuk saat menjelaskan perasaan para tokohnya. Meskipun kisahnya klise tapi karena ditulis dengan gaya yang unik, hasinya jadi berbeda.

Judulnya yang unik dan covernya yang ada gambar termometer bikin saya tertarik untuk membacanya. Novelnya menarik dan unik karena menggunakan tema rumah sakit. Buku ini sangat baik dibaca untuk kalangan remaja, karena menggunakan bahasa yang mudah dipahami.

Resensi ini ditulis oleh Rahma Daniar (IX-7)

 

Cerpen : Rasa Yang Tak Terucap




                                                  
Suasana tenang dan damai tampak menyelimuti sebuah taman yang cukup luas, hembusan angin sore membuat daun-daun tua berguguran di rerumputan luas yang ditengahnya terdapat sungai kecil yang airnya mengalir dengan tenang. Langit sore yang tadinya cerah perlahan-lahan menampakkan cahaya abu-abu gelap seluruhnya pertanda akan turun hujan. Aku masih terhanyut dengan kegiatanku sehingga tidak sadar bila titik-titik air hujan mulai turun membasahi bumi.

“Dara!” Aku menolehkan pandanganku pada sumber suara yang sangat familiar di telingaku. Ternyata kak Indah, sahabatku yang selalu menemani hari-hariku di rumah sejak aku masih kecil. Kak Indah, aku memanggilnya dengan sebutan kakak karena memang ia lebih tua satu tahun dariku, walaupun hanya berbeda satu tahun aku tetap memanggilnya dengan sebutan kakak. Kulihat ia berjalan menghampiriku dengan payung yang dibawanya.
“Ra, ngapain masih disini? Pulang yuk, pasti sebentar lagi hujannya deras” kata kak Indah lalu memayungi kepalaku agar tidak tdak terkena tetesan air hujan dengan payung yang dibawanya.
“Ah iya kak, aku keasyikan ngerjain PR sampai-sampai ngga sadar kalau ternyata sudah hujan” kataku lalu membereskan barang-barangku.
Kami berdua lalu berjalan menyusuri rerumputan hijau yang sudah basah terkena tetesan air hujan untuk pulang ke rumah kami masing-masing.
“Kak?” panggilku pada kak Indah saat kami masih menyusuri jalan pulang.
“Hmm..” Ia hanya berdehem sambil terus melihat lurus ke depan.
“Kak, tadi kakak ngapain ke taman?” tanyaku sambil melirik ke arahnya.
“Jemput kamu” jawabnya singkat.
“Serius kak? Tumben, biasanya aku yang sering nyariin kakak” kataku tak percaya. Memang bisa dibilang selama ini yang sering membutuhkan ia adalah aku, biasanya aku selalu mencarinya untuk sekedar meminta bantuan mengerjakan PR-ku yang tidak aku mengerti.
“Iya, habisnya tadi kakak samper ke rumah kamu, eh kata ibumu kamu alagi ke taman, ya sudah akhirnya aku susul kamu kesini” kata kak Indah menjelaskan alasannya menjemputku di taman.
“Memangnya kakak ada perlu apa nyariin aku?” tanyaku pada kak Indah.
“Aku mau cerita sama kamu, Ra” jawab kak Indah. Cerita? Kira-kira dia mau cerita apa ya? Pantas saja ia menyusulku ke taman, ternyata ia ada perlunya.
“Cerita apa kak?” tanyaku penasaran.
“Nanti saja ya ceritanya kalau sudah sampai rumahku, kamu ikut ke rumahku dulu ya” katanya mengajakku ke rumahnya.
“Huh, iya deh kak” kataku pasrah.
Tak terasa karena obrolan panjang kami, kami pun telah sampai di rumah kak Indah. Rumahku dan rumah kak Indah memang tidak terlalu berjarak jauh, kami masih tinggal satu lingkungan. Bedanya aku di lingkungan atas sedangkan ia di lingkungan bawah.
“Kak, tadi mau cerita apa?” tanyaku pada kak Indah, saat ia sudah selesai meletakkan payung yang sudah basah di teras rumah.
“Aku.. Aku suka sama cowok, Ar” jawabnya. Oh ternyata ia naksir cowok toh. Aku sih tidak terkejut. Aku sudah biasa mendengar curhatannya kalau ia sedang suka sama cowok.
“Siapa kak?” tanyaku penasaran.
“Dia namanya Ilham. Anak lingkungan bawah temennya Dio. Kayanya sih dia seumuran sama aku” kata kak Indah.
“Ilham? Dia baru pindah kesini ya kak? Kok aku baru denger namanya” kataku sambil berfikir.
“Iya, waktu itu sih aku lihat dia lagi beres-beres barang-barangnya di rumah barunya. Oh iya, rumahnya Ilham di sebelah rumah Dio loh” katanya sambil senyum-senyum. Aku jadi penasaran seperti apa sih sosok Ilham itu? Sampai-sampai kak Indah cerita sambil senyum-senyum tidak jelas begitu.
“Memang dia setampan apa sih, kok kakak sampai senyum-senyum nggak jelas begitu?” tanyaku mengutarakan perasaanku.
“Hehehe dia itu tampan, putih, tinggi, dan senyumannya itu.. Manis banget! Pokoknya perfect deh!” jawabnya seraya menceritakan bagaimana sosok Ilham.
“Ah aku jadi penasaran nih, pokoknya besok aku harus ke rumahnya Dio  biar bisa ketemu sama Ilham” kataku bersemangat.
“Ya sudah sana gih, nanti juga kamu bakal terpesona sama ketampanan seorang Ilham. Eh tapi kamu jangan naksir ya sama dia, soalnya dia itu calon pacar aku hehehe” kata kak Indah seraya membanggakan dirinya. Huh! Tidak heran kalau sifatnya kak Indah memang seperti ini. Sangat narsis!
“Oke kalau begitu aku mau pulang dulu ya kak, takutnya ibu nyariin” pamitku karena hari sudah mulai gelap.
“Hati-hati ya, Ra” kata kak Indah menasehatiku.
“Assalammualaikum”
“Waalaikum salam”
Aku berjalan pulang menuju rumahku. Untungnya hujan sudah reda, jadi aku tidak perlu berlari menembus hujan atau menggunakan payung untuk sampai ke rumahku. 

Keesokan harinya, sehabis pulang sekolah aku menepati janjiku untuk datang ke rumah Dio. Dio juga salah satu temanku, dia juga begitu akrab denganku sama seperti kak Indah. Tapi bedanya, Dio laki-laki kalau kak Indah perempuan. Dio juga seumuran denganku. Kulihat Dio sedang tiduran di kursi teras rumahnya sambil mendengarkan musik yang di putar melalui headset yang ada di telinganya dengan mata terpejam.

“Assalammualaikum Dio” sapaku seraya memberi salam.
Dio hanya diam tak merespon, sepertinya ia terlalu larut dalam kegiatannya mendengarkan musik sehingga tidak mendengar suaraku.
Akhirnya aku pun membuka pagar besi rumah Dio  yang bercat hitam dan langsung menghampirinya.
“Dio!” panggilku, tapi dia tetap diam seperti tadi.
“Dioooooooooooooo!” teriakku tepat di telinganya, tanganku bergerak untuk melepas satu headset di telinganya.
“Astaghfirullah” kagetnya dan langsung mengubah posisinya menjadi terduduk. Sepertinya ia kaget dengan tindakanku barusan.
“Dara? Ada perlu apa kamu kesini?” tanyanya setelah ia mengontrol keadaan tubuhnya yang sedang kaget itu.
“Hehehe aku kesini mau lihat tetangga baru kamu” jawabku sambil sesekali melirik ke arah samping rumah Dio yang hanya dibatasi pagar besi yang tidak terlalu tinggi.
“Oh si Ilham, kenapa memangnya kamu suka ya sama dia?” tanya Dio dengan ekspresi jutek.
“Engga kok, kenapa kamu jadi jutek begitu sih. Aku kan Cuma penasaran aja sama yang namanya Ilham itu” jawabku mengalihkan pandanganku dari rumah Ilham lalu menatap Dio malas.
“Masa sih kamu cuma penasaran aja sama dia, nanti kalo udah lihat orangnya jadi suka lagi” katanya datar tanpa ekspresi. Dio ini sedang menggodaku atau bagaimana sih? Kenapa dia mengucapkannya dengan ekspresi seperti itu.
“Ah ngga mungkin, lagipula kamu kok bisa bilang begitu? Memangnya dia tampan ya?” tanyaku pada Dio.
“Menurutku tidak juga sih, kalau dibandingkan denganku juga masih lebih tampan aku” kata Dio dengan percaya dirinya. Aku memutar bola mataku malas menanggapi ucapannya yang terlalu percaya diri itu.
Belum sempat aku membalas ucapan Dio, kulihat seorang laki-laki muda seumuran kami keluar dari rumah di samping rumah Dio. Sepertinya itu yang bernama Ilham. Ternyata kak Indah tidak berbohong, Ilham memang benar-benar tampan. Tubuhnya yang tinggi, kulitnya yang tidak terlalu putih, dan hidungnya yang mancung. Ia benar-benar mirip seperti idolaku, Lee Donghae dari boygroup Super Junior. Aku masih terpesona menatapnya, sampai-sampai aku merasakan ada yang menyenggol lenganku. Aku menoleh untuk melihat siapa yang menyenggol lenganku. Ternyata Dio. Aku menoleh ke arah Dio dengan tatapan bertanya. Sedangkan Dio mengarahkan dagunya pada seseorang dihadapanku. Ilham!??? Sedang apa dia disini? Apa jangan-jangan ia kesini untuk menemui Dio? Ah bagaimana mungkin aku bisa melamun selama itu. Pasti wajahku tadi sangat memalukan!
“Hai Dara!” sapa Ilham sambil menatapku. Apa? Ilham tau namaku?
“Kok kamu bisa tau namaku?” tanyaku ke Ilham.
“Ah.. Itu-” kata Ilham terpotong.
“Aku yang memberitahunya” sela Dio memotong perkataan Ilham.
“Ehm, Hai” balasku kaku. Sepertinya aku mulai menyukai Ilham.
“Perkenalkan namaku Ilham, aku baru pindah hari minggu kemarin” kata Ilham sambil mengulurkan tangannya ke arahku.
“Aah iya, aku.. Emm kamu kan sudah tau namaku hehehe” jawabku sambil membalas uluran tangannya. Beberapa detik kami terdiam.
“Ekhem, sudah dong salamannya, masih ada aku loh disini” kata Dio datar, sambil melepas tautan tanganku dan Ilham.
Dan setelah itu pun terjadi obrolan panjang antara aku, Dio, dan Ilham. Sesekali Dio dan Ilham bergurau sehingga membuat kami bertiga menjadi tertawa terbahak-bahak.

Setelah hari menjelang sore, aku lalu berpamitan pulang pada Dio dan juga Ilham. Sesampainya dirumahku, aku mendapati kak Indah sedang duduk di kursi yang ada di teras rumahku. Sepertinya ia sedang menungguku.
“Kak Indah, udah lama?” tanyaku lalu duduk disampingnya.
“Iya, kamu kemana aja sih?” tanya balik kak Indah.
“Aku habis dari rumah Dio kak, habis bertemu sama Ilham” jawabku.
“Ooh kamu udah ketemu dia, gimana menurut kamu, dia tampan kan?”  tanya kak Indah memastikan pernyataannya kemarin.
“Hmm lumayan kak” jawabku singkat. Entah mengapa aku sulit mengakui di depan kak Indah kalau Ilham itu memang tampan. Walaupun begitu aku tidak boleh menyukai Ilham. Aku harus menjaga perasaan kak Indah yang terlebih dahulu telah menyukai Ilham.
Kami pun terlarut dengan obrolan kami. Aku sadar, aku tidak boleh menyukai Ilham karena kak Indah. Kak Indah sudah ku anggap sebagai kakakku sendiri karena memang aku tidak mempunyai kakak, aku hanya mempunyai satu adik.

          Beberapa minggu setelah hari itu, aku sering datang ke rumah Dio untuk belajar bersama dengan Dio dan saat itu juga aku mendapati kak Indah tengah ada di rumah Ilham. Sepertinya kak Indah sedang menjalankan misinya untuk mendekati Ilham. Kak Indah benar-benar  serius dengan perkataannya waktu itu untuk menjadikan Ilham pacarnya. Setelah selesai mengerjakan tugasku di rumah Dio, aku bergegas pulang ke rumahku.
“Dara!” Ku dengar ada yang memanggilku. Aku menolehkan kepalaku ke arah sumber suara.  Ternyata itu suara Ilham. Ia pun berlari kecil menghampiriku.
“Iya, ada apa Ham?” tanyaku pada Ilham setelah ia tepat berada dihadapanku.
“Ikut aku ke taman yuk!” ucapnya lalu berjalan mendahuluiku. Aku mengikutinya dari belakang, tidak berniat berjalan disampinya.

Sesampainya di taman, aku dan Ilham memilih untuk duduk di kursi taman yang terletak di bawah pohon.
“Ehm, Ra” Ia memanggilku.
“Iya Ham?” Aku menatapnya.
“Sebenarnya selama ini aku memperhatikanmu. Dan yang waktu itu aku sudah tau namamu, aku memang bertanya pada Dio tentangmu. Waktu pertama aku baru pindah kesini aku sempat melihatmu” Aku tercekat. Jadi selama ini Ilham memperhatikanku.
“Saat kamu sering mengunjungi rumah Dio, aku jadi lebih tau bagaimana sifatmu yang sesungguhnya. Dari situ aku tau, dan aku menyukai sikapmu yang apa adanya. Aku menyukai caramu tertawa, membuka mulutmu lebar-lebar tanpa memperdulikan sekitarmu. Aku menyukai tingkahmu yang terkadang polos seperti anak kecil” Aku terdiam. Ini maksudnya apa? Aku membiarkan dia dia melanjutkan perkataannya.
“Aku suka sama kamu, Ra” Aku masih terdiam tak merespon ucapannya. Aku menunduk dalam sambil memeluk buku-buku yang ku bawa ditanganku.
“Ehm Ra.. Kamu mau nggak-” perkataan Ilham terpotong.
“Jadi kamu suka sama aku?” Pertanyaan yang aku sendiri sudah tau jawabannya. Akhirnya aku bisa berbicara setelah beberapa detik tercekat.
“Iya” jawabnya singkat.
“Tapi bukannya kamu tahu kalau-” Perkataanku terpotong.
“Kalau Indah suka sama aku?” tanya Ilham sambil menatapku. Aku hanya menangguk pelan.
“Aku tahu itu, bahkan sudah sangat jelas dari sikapnya terhadapku” Ia sudah tau kalau kak Indah menyukainya? Tapi mengapa ia malah mengatakan perasaannya padaku?
“Aku ngga suka sama Indah, aku suka sama kamu. Kamu sama Indah itu beda,  Ra!” katanya seolah bisa membaca pikiranku.
”Tapi... Gimana sama kak Indah? Kalau dia tau dia akan-” perkataanku terpotong.
”Aku udah tau, Ra. Kamu nggak usah takut sama aku. Aku rela kalo kamu sama Ilham” Suara yang sangat familiar ditelingaku. Itu Kak indah! Kulihat dia berlari meninggalkan kami.
“Maaf Ham, aku nggak mau balas perasaan kamu. Tapi aku nggak mau kak Indah salah paham sama kita berdua” Aku berhenti sejenak untuk melihat wajahnya.
“Sekali lagi aku minta maaf, tapi aku pilih kak Indah” ucapku lalu berlari meninggalkan Ilham yang masih terduduk di kursi taman, memandang kepergianku dalam diam.
         
Setelah kejadian itu hubunganku dan Kak Indah semakin merenggang. Ia jarang sekali mengunjungi rumahku, biasanya dalam selama ini kami selalu  meluangkan waktu untuk bertemu. Aku juga sebaliknya, aku takut Kak Indah marah padaku. Aku tidak punya keberanian untuk menemuinya. Tapi hari ini, sehabis pulang sekolah aku memutuskan datang ke rumah Kak Indah. Sesampainya di rumah Kak Indah, kebetulan aku melihatnya sedang duduk di kursi teras rumahnya.
“Kak Indah!” kataku sambil membuka pintu pagar rumahnya lalu menghampirinya.
“Eh Dara, kenapa?” katanya sambil tersenyum sumringah. Ia terlihat senang sekali bertemu denganku. Apa ia telah melupakan kejadian waktu itu?
“Hmm kak, kakak masih marah sama aku?” tanyaku pelan tanpa menatapnya.
“Marah? Aku ngga marah kok sama kamu” jawabnya. Ternyata dia tidak marah. Ku fikir selama ini ia marah padaku. Ternyata dugaanku salah. Tapi kenapa akhir-akhir ini ia jarang menemuiku?
“Tapi akhir-akhir ini, kenapa kakak jarang main ke rumah?” tanya ku lagi.
“Aku sibuk Ra, akhir-akhir ini tugas dari sekolah makin banyak.
Jadi gak ada waktu buat main sama kamu” kata kak Indah. Oh ternyata karena ia sibuk. Aku kira ia marah denganku karena kejadian waktu itu.
“Tentang, Ilham kak..” kataku pelan.
“Aku udah nggak suka sama dia” katanya tegas. Apa benar ia sudah melupakan rasa sukanya pada Ilham?
“Oh iya Dara, beberapa minggu lagi kan Ujian Nasional, setelah Ujian Nasional aku harus melanjutkan sekolah menengah ke asrama. Jadi aku harus ke Jawa Timur. Disana satu-satunya asrama yang dekat dengan rumah nenekku. Jadi aku bisa pulang ke rumah neneku” Apa katanya? Ia ingin sekolah di asrama? Itu artinya ia akan meninggalkanku.
“Oh.. Jadi kakak mau ninggalin aku?” tanyaku lirih. Rasanya aku ingin menangis saat ini juga.
“Tidak seperti itu Dara. Aku masih bisa pulang kesini. Ayah dan Ibuku masih tetap disini. Jadi sebulan sekali aku akan mengunjungi mereka dan juga kamu” katanya sambil menatapku.
“Nanti aku disini sama siapa?” kataku dengan suara serak. Sepertinya aku sudah menangis saat ini.
“Teman kamu banyak, Ra. Ada Dio, Ilham yang bisa nemenin kamu selama aku tidak ada” katanya.
Aku langsung memeluknya erat, kak Indah membalas pelukanku tak kalah eratnya. Ku rasakan pundakku basah, kak Indah menangis. Aku tidak tahu bagaimana bila kak Indah meninggalkanku. Selama ini ia adalah tempatku berkeluh kesah, bisa dibilang ia tempat curhatku. Ia juga sering berkeluh kesah kepadaku. Ia yang sudah aku anggap sebagai kakakku sendiri akan pergi meninggalkanku. Bagaimana aku sanggup?

          Tak terasa hari Ujian Naional pun tiba. Kak Indah dan Reza sedang berjuang untuk menentukan nilai mereka nantinya di sekolah menengah. Sedangkan aku dan Dio hanya menjalani Ujian Kenaikan Kelas.
Setelah hari Ujian Nasional selesai, Ilham memutuskan untuk melanjutkan sekolahnya di Bandung karena ia mengikuti ayahnya yang pindah tugas ke Bandung. Saat ini Ilham sudah ku anggap sebagai sahabatku juga. Aku berfikir, kenapa secara perlahan teman-temanku meninggalkanku? Setelah kak Indah, sekarang Ilham. Aku tidak tau apakah aku benar-benar menyukai Ilham atau hanya sekedar mengaguminya saja. Disaat ia akan pergi kenapa aku merasa tidak rela? Tapi semuanya sudah terlambat, pada akhirnya ia akan meninggalkanku juga.

1 Tahun Kemudian.....

          Suasana pagi yang cerah diiringi dengan suara kicauan burung yang merdu mewarnai pagiku hari ini. Aku berjalan dengan riang menuju sekolah baruku, SMPN 179 Jakarta. Sekolah menengah yang diimpikan oleh teman-teman sebayaku. Dan aku termasuk salah satu siswi dari sekian banya siswa beruntung yang diterima di sekolah itu. Dahulu aku menggunakan seragam putih merah, tapi tidak dengan sekarang. Putih biru adalah seragamku saat ini.  Aku akan memulai hari baru ku di sekolah menengah.

TAMAT